Senin, 21 Oktober 2013

Pacarmu, Suamiku


“Maaf, aku memang sudah menikah dengan calon suamimu.” Elly pun terdiam membisu, matanya terlihat hendak copot dan giginya gemertak. Tanpa sadar ia melayangkan sebuah handphone ke kepala pria brengsek yang nyaris menjadi suaminya tersebut. Hampir saja Elly meneteskan air mata. Namun  ia ingin terlihat tegar. Ia membanting meja lalu keluar dari ruangan tersebut.
Elly terus berlari keluar dari rumah megah bertingkat dua itu, melintasi jalanan komplek yang saat itu sedang ramai orang dan kendaraan melintas. Semua mata tertuju pada Elly yang berlari dengan isak tangis kekecewaan tanpa arah yang jelas.
Cuaca hari itu cukup cerah, tapi tidak cukup cerah bagi hati Elly yang sudah remuk dan hancur karena kekecewaan yang begitu mendalam pada calon suami yang ternyata sudah menikah dengan sahabat kecilnya.
Pelarian Elly terhenti pada tepi sebuah danau yang sepi. Ia duduk terdiam dibawah pohon tinggi besar menjulang yang melindunginya dari kehangatan mentari senja kala itu. Air matanya tidak berhenti mengalir dari kedua matanya yang bulat, jatuh melintasi kedua sisi pipinya yang bulat kemerah-merahan. Pelan tapi pasti, butir-butir air matanya mengalir semakin deras.
Malam datang menjelang, lampu-lampu disekitar danau mulai menyala menemani indahnya cahaya rembulan yang tengah menyinari bumi. Elly masih berada di danau itu, masih terbayang bagaimana perkataan sahabatnya tadi siang. Tidak pernah terpikir sedikitpun dalam benak Elly jika lelaki yang dicintainya selama setahun ini adalah suami sahabatnya sendiri.
“Tuhan mengapa harus seperti ini? Mengapa setelah setahun lebih hal ini baru terungkap? Apa Engkau sengaja melakukan hal seperti ini untuk mengujiku? Apa yang harus aku lakukan didepan sahabatku nanti?” Teriak Elly memecah keheningan danau malam itu.
Setahun berlalu dari kejadian itu, setahun pula Elly sudah berpindah dari kota Solo ke Ibukota. Elly memutuskan sendiri untuk pindah jauh dari Solo karena malu menyimpan aib yang terlambat ia ketahui. Belum ada sesosok pria yang singgah di dalam hatinya. Rasa trauma masih menghantui jiwa Elly.
Waktu kosong Elly kini hanya dihabiskan untuk duduk di sebuah sudut kedai kopi yang tidak jauh dari rumahnya. Berbeda dengan dulu, kini ia hanya sendirian di kedai kopi. Secangkir kopi hitam pahit di mejanya bisa habis berjam-jam lamanya. Elly meminum perlahan agar tidak cepat habis demi Wi-fi gratis yang merupakan bonus dari pembelian kopi di kedai tersebut. Elly memesan secangkir kopi robusta dari Brazil yang warnanya hitam pekat dan rasanya pahit, sepahit masa lalu Elly.
Bayang-bayang James sudah mulai sirna dari lubuk hati dan benak pikiran Elly. Ya, James yang terakhir Elly temui bertubuh tinggi besar dengan dada yang bidang dan kepala tanpa rambut itu adalah calon suami Elly sekaligus suami dari sahabtnya sendiri, Debora.
Sudah setahun pula banyak pria lalu-lalang mencoba memasuki ruang dihati Elly yang mulai kosong ditinggalkan James. Namun, jumlah pria yang kecewa sebanding dengan jumlah pria yang lalu-lalang. Hati Elly masih terus tertutup walau kini mulai kosong. Belum ada pria yang sanggup untuk menyusun kembali serpihan hati Elly yang sudah hancur berkeping-keping                                                                                                                
“ELLY! HEI ELLY!” Nampak  dari kejauhan ada seorang wanita muda memanggil nama Elly dan memecahkan lamunan nya siang itu. Kemudian wanita itu menghampiri Elly yang masih belum menyadari siapa wanita yang memanggil namanya itu.
“Hei Elly! Apa kabar? Aku rindu sekali dengan kamu! Kamu hilang begitu saja tanpa jejak! Seperti diculik alien saja sih!” Elly masih terkejut dengan kehadiran  wanita itu, ia masih tetap saja terdiam dengan tatapan kosong mengarah ke arah bola mata wanita itu seperti sedang menerawang batinnya.
Kini dihadapan Elly terdapat seorang wanita tinggi kurus dan rambut bergelombang menatap Elly dengan lesung pipi yang menghiasi senyuman manisnya
“Ka..Kamu kenapa bisa ada disini?” Tanya Elly gugup sambil tertunduk malu kepada wanita itu. Ternyata wanita itu adalah sahabatnya, Debora. Debora adalah suami dari calon pasangan hidup Elly kala itu. “Kamu mengapa seperti ini? Aku sudah memaafkan kamu juga suamiku. Aku berusaha mencarimu setiap hari. Sudah bosan rasanya aku menelpon dan mengunjungi rumahmu di Solo tanpa membuahkan hasil” Jelas Debora kepada Elly yang masih terlihat malu.
“Debora! Maafkan aku! Maafkan aku yang telah berkhianat sebagai sahabat sejatimu!” Bisik Elly sambil memeluk tubuh Debora dengan erat dan mata yang  mengeluarkan air mata secara perlahan jatuh membasahi pipi Elly dan pundak Debora saat itu.
“Hei..hei! dengarkan aku Elly!” Pinta Debora sambil melepaskan pelukan dan membasuh bulir-bulir air mata Elly yang terus berjatuhan dari bola matanya. “Memang ada yang namanya mantan suami dan mantan kekasih. Tapi kamu harus tau satu hal penting, di dunia ini tidak pernah ada yang namanya mantan sahabat!”
Elly kemudian tersenyum bahagia mendengar ucapan Debora yang begitu pemaaf. Rintihan air mata Elly mulai berhenti perlahan tergantikan oleh senyuman dari bibir ranumnya yang indah.

Bolehkan aku meminjam lima puluh ribu?

Seorang anak mengajak ayahnya yang selalu sibuk dengan pekerjaan kantor nya dan selalu pulang malam hari untuk bermain.
"yah, kita main monopoli yuk.."
"kamu gak liat papa baru pulang? papa capek!"
"sebentar aja pa.. aku mau main sama papa"
"papa capek nak..."
"pa...sebentar"
"nak!" ayah nya membentak.
si anak pun terdiam.





Hal ini membuat anak itu kecewa, sudah sekian lama anak itu tidak bermain dengan papanya. kemudian, ia memikirkan sesuatu yang mungkin dapat membuat ia bisa bermain dengan papanya

"pa, gaji papa kalau dihitung satu jam nya kira- kira berapa?" Tanya anak itu kepada ayah nya dengan rasa takut. "hmm mungkin 100 ribu. Kenapa sih? kamu butuh uang jajan tambahan? atau mainan? jangan bertele-tele! papa tuh capek!" Bentak papa anak itu.

"Maaf pa, aku hanya ingin meminjam 50 ribu. Boleh kan?"
"buat apa nak? kalau cuma 50 ribu tidak usah pinjam! itu kecil!" jawab ayahnya dengan gaya sedikit sombong.

"Aku punya uang 50 ribu.. aku mau pinjam papa 50 ribu lagi biar aku bisa bayar papa untuk main sama aku 1 jam saja"


Perkataan terakhir anak ini membuat Ayahnya terdiam membisu, matanya berkaca - kaca menahan gejolak air mata yang mungkin akan turun membasahi pipinya. Kemudian papanya meminta maaf pada anak itu sembari memeluk erat tubnuh anaknya yang mungil.